Backpacker Ke Puncak Rante Mario Di Pegunungan Latimojong
Seperti biasa sebelum pendakian, saya selalu melakukan riset tentang gunung yang akan didaki. Beberapa cara yang saya lakukan adalah dengan melihat video para pendaki sebelumnya, membaca artikel yang ada serta peta dan topografinya, kemudian mencatat estimasi waktu perjalanan pendaki-pendaki lain, menandai letak camp ground juga sumber air dan jalur alternatifnya. Ekspedisi ini saya lakukan sendiri, ya solo backpacker dengan budget yang sangat minim.
Perjalanan dimulai dari Kota Malang menuju pelabuhan Tanjung Perak menggunakan kereta lokal dengan rute stasiun Kota Malang ke stasiun Surabaya Kota selama 2-3 jam dengan tarif Rp. 12.000. Setelah sampai, ismail teman kecil yang sedang berkuliah di surabaya bersedia mengantarkan saya menuju pelabuhan. Saat tiba di pelabuhan, saya langsung bergegas untuk melakukan check in tiket untuk mendapatkan gelang penanda penumpang kapal. Kapal yang saya tumpangi bernama KM Dobonsolo dari PELNI dengan harga tiket Rp. 272.000 sudah termasuk tempat tidur dan kupon makan sebanyak 3 kali. Perjalanan dari Surabaya menuju Makassar menghabiskan waktu kurang lebih 30 jam.
Kehidupan dikapal memang sedikit berbeda, harga makanan yang lumayan mengharuskan orang-orang seperti saya untuk menyiapkan persediaan yang banyak dari luar kapal. Didalam kapal juga harus selalu waspada menjaga barang, begitu kata teman kepada saya karena rawan pencurian. Tidak banyak juga aktivitas yang saya lakukan dikapal, paling tidak bercengkrama dengan penumpang lain diatas anjungan menikmati suasana laut dengan segelas kopi panas. Setelah 30 jam berlalu, kapal pun tiba dipelabuhan makassar tepat pada pukul 19.40 WITA. Mental pun diuji ketika berjalan turun dari kapal menuju pelabuhan, para porter yang berdesakan naik mencari pelanggannya. Saat tiba di depan pintu masuk pelabuhan makassar, imam teman saya menyambut dengan hidangan semangkuk coto, palubasa dan es pisang ijo. Setelah selesai makan, imam memberi saya tumpangan untuk beristirahat ditempatnya sebelum memulai perjalanan esok harinya.
Pagi pun tiba, saya mulai menata kembali carrier dan bergegas ke titik tujuan. Imam mengantarkan saya sampai di perbatasan makassar-maros untuk memulai mencari tumpangan. Setelah kurang lebih 40 menit saya mengacungkan jari jempol, mobil bak pun berhenti memberikan tumpangan sampai di depan kantor dinas pertanian kabupaten maros.
Setelah beberapa saat kembali mengacungkan jempol dijalan, bapak-bapak dengan mobil bak berhenti dan menyuruh saya untuk menaruh carrier dibak belakang lalu duduk di kursi depan mobilnya. Tumpangan kali ini lumayan panjang mulai dari kantor dinas tadi sampai ke tugu semen tonasa di pangkep. Saat berpisah, bapak-bapak dengan mobil bak mengulurkan uang ke saya dengan pesan "hati-hati dijalan nak, jangan lupa mampir dirumah". Tiba-tiba rasa bimbang mulai datang, sudah berusaha untuk menolak uangnya namun tidak baik juga kalau tidak menerima pemberian orang, "terima kasih banyak pak" ucap saya dengan perasaan terenyuh. Dari tugu, saya mulai berjalan melewati alun-alun bambu menyusuri jembatan diatas teriknya matahari di pangkep. Setelah melewati jembatan, ada pemuda yang menghampiri saya kemudian menawarkan tumpangan sejauh 1,5 KM dengan motornya. Perbincangan pun terjadi tak lama karena ia sedang ada urusan, kami pun berpisah.
Perjalanan kurang lebih 2 jam, tiba lah kami di sebuah rumah makan tengah kota parepare. Setelah memakan ikan bandeng bakar dengan sambal mangga, lagi-lagi saya ditraktir oleh bapaknya, dengan hari terenyuh kembali saya ucapkan "Terima kasih pak" kami pun melanjutkan perjalanan. Saat malam tiba kami sampai di pinrang, bapak menawarkan kepada saya untuk menginap dahulu ditempatnya di pantai harapan ammani yang jaraknya lumayan jauh dari pusat pinrang. Dengan berat hati saya menolaknya karena nanti akan sangat susah mencari tumpangan karena lokasi yang tidak strategis, syukurlah bapak mengerti dan kami berpisah di indomaret. Saya bergegas ke indomaret untuk mengisi baterai hp dan mengecek lokasi masjid di maps untuk menginap malamnya. Saat saya berjalan menuju masjid, rizal dan humaidil (warlok) datang menghampiri menawarkan untuk menginap saja di basecamp mereka. Tanpa pikir panjang, saya mengikuti mereka dengan boncengan bertiga menggunakan motor. Tiba di basecamp, kami pun duduk santai berdiskusi panjang dengan teman-teman yang lain, ada sainudin dan juga naldy ikut bergabung saat malam itu.
Pagi pun tiba, saya diantar oleh rizal dan humaidil menuju titik yang cukup strategis untuk mencari tumpangan yaitu jalan poros pinrang-enrekang. Tak butuh waktu lama, truk tanpa muatan menghampiri lalu memberikan tumpangan. Ketika berjabat tangan untuk berpisah dengan rizal dan humaidil, ternyata dikepalan tangan mereka memberikan uang untuk jajan dijalan. Dengan rasa senang bercampur sedih saya ucapkan "Terima kasih banyak, semoga bertemu kembali". Tujuan saya adalah pasar cakke yang ada di enrekang, mengapa pasar cakke? karena pasar ini menjadi titik pertemuan untuk menuju ke pasar baraka, pasar terakhir sebelum masuk ke desa terakhir latimojong. Setelah tiba di pasar cakke, saya bergegas mencari ojek untuk menuju pasar baraka. Namun, ternyata setelah bernegosiasi dengan tukang ojek tidak sesuai dengan harga yang sudah saya survey sebelumnya. Saat berjalan menjauh dari pangkalan ojek, ada pemuda sekitar yang datang menghampiri saya dan menawarkan tumpangan ke pasar baraka. Saat sampai di pasar baraka, saya bertemu bang aan dari mahasiswa pecinta alam enrekang yang membantu saya untuk mencari truk yang menuju dusun karangan.
Sebelum itu, kami berdiskusi terlebih dahulu untuk mempertimbangkan apakah lanjut atau pulang karena kondisi gunung latimojong waktu itu hampir 1 bulan tidak ada aktivitas pendakian. Ia menyarankan untuk singgah dulu di baraka untuk menunggu saat ia bisa ikut mengantarkan saya dalam pendakian. Dengan percaya diri saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ini lalu bang aan menyuruh saya untuk menginap dirumah bang sulham (saudara bang aan). Setelah belanja logistik, saya pun melanjutkan perjalanan ke dusun karangan dengan menggunakan truk pasir.
Jalan disana kurang begitu bagus sehingga tidak semua kendaraan bisa masuk, perjalanan saya tempuh kurang lebih 1 1/2 jam sampai di rumah bang sulham di dusun rantelemo (2 dusun sebelum dusun karangan). Ternyata akses kendaraan hanya bisa sampai di dusun rantelemo karena ada pengecoran jalan di dusun karuaja (sebelum dusun karangan). Bang sulham tinggal bersama kedua orang tuanya dan awal (anak spesial yang sudah dianggap seperti keluarga).
Saat sampai di dusun karangan dengan berjalan kaki kurang lebih 3 KM, petugas bilang bahwa belum ada pendaki yang datang sejak awal bulan sambil ia menunjukkan buku tamu. Ia menyarankan agar menggunakan jasa porter/guide apabila saya memang ingin sekali mendaki saat itu. Harga porter/guide disana kisaran 200-300/Hari, ternyata porter/guide disana tidak dibedakan. Setelah mencoba bernegosiasi dengan pihak porter/guide, mereka hanya mau di harga 150/hari. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke dusun rantelemo dan sementara waktu saya menginap dirumahnya bang sulham sembari menunggu ada kabar pendaki lain yang datang.
Dari beberapa daerah yang sudah saya singgahi sebelumnya, beberapa daerah seperti pangkep, parepare dan pinrang didominasi oleh suku bugis sedangkan daerah enrekang dibeberapa titik ada yang didominasi oleh suku asli yaitu duri dan sebagian lagi didominasi juga oleh bugis seperti di dusun rantelemo.
Selama 7 hari saya mencari info di facebook di grub-grub pendaki sulawesi, akhirnya mendapat kabar dari bang muche (warlok) "ada 2 pendaki dari makassar dan jakarta, mereka mendaki sekitar tgl 29 April 2022" ucap bang muche di pesan facebook, kemudian saya meminta kontak para pendaki tadi dan segera menghubunginya untuk janjian bertemu di basecamp saat pagi hari tgl 29. Saya bertemu bang calvin dan bang ramos di basecamp dusun karangan, mereka menyewa satu orang porter, bang ady namanya warga asli latimojong. Banyak homestay yang tersedia di dusun karangan dengan tarif yang lumayan murah. Sinyal internet di dusun karangan masih sedikit terganggu dan PLN belum sepenuhnya ada yang masuk sehingga masyarakat menggunakan pembangkit listrik tenaga air karena banyak aliran air di sekitar dusun.
Pagi hari, kami berkumpul di basecamp dusun karangan untuk mengurus registrasi, harga tiketnya Rp 35.000/Orang. Kami memulai pendakian dari basecamp dusun karangan tepat pada pukul 08.00 Wita menuju pos 1 kurang lebih menghabiskan 1 jam perjalanan dengan jalur yang masih sedikit landai dan didominasi oleh perkebunan kopi milik warga. Dari pos 1 menuju pos 2 mulai memasuki hutan dengan kondisi jalur yang cukup landai dan melipir di tepi sungai yang menghabiskan kurang lebih 1 jam perjalanan. Pada pos 2 terdapat jembatan serta goa yang bisa digunakan untuk istirahat juga sumber air yang melimpah.
Setelah beberapa saat beristirahat dan mengisi persediaan air, kami melanjutkan perjalanan menuju ke pos 3. Dari peta, bisa dilihat bahwa jalur yang paling dekat adalah pos 2 ke pos 3. Namun saat kami berjalan menuju pos 3, kondisi jalur dipenuhi oleh tanjakan yang cukup terjal dengan menggunakan tali webbing dan hampir tidak ada landai. Disini kami sangat berhati-hati karena terdapat jurang disebagian jalur serta akar tanaman yang cukup licin. Waktu yang kami tempuh dari pos 2 ke pos 3 kurang lebih 1 jam perjalanan.
Di pos 3, kami beristirahat memakan cemilan untuk mengisi kembali energi yang sudah lumayan terkuras. Setelah selesai makan, kami bergegas melanjutkan pendakian menuju pos 4 yang menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan. Kondisi jalur dari pos 3 ke pos 4 cukup banyak diberi bonus landai dan didominasi oleh akar pohon ditengah jalurnya.
Setelah sampai pos 4, kami tidak singgah beristirahat dan lanjut jalan menuju ke pos 5 karena hari sudah mulai gelap. Kondisi jalur menuju pos 5 masih sama dengan pos 3 ke pos 4 namun lebih banyak lagi landainya dengan waktu yang kami habiskan kurang lebih 1 1/2 jam perjalanan. Setelah tiba di pos 5, kami langsung membangun tenda karena hujan sudah semakin deras. Kami berkumpul di satu tenda agar lebih hangat juga sekalian menyiapkan makanan bersama-sama. Kondisi pos 5 cukup rindang banyak pohon besar yang tumbuh serta jarak sumber air tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu beberapa menit dari tenda. Di pos 5 juga masih cukup banyak hewan liar seperti babi, tikus gunung sehingga sisa makanan kami gantung diatas pohon agar terhindar dari endusan babi.
Pagi pun tiba, kami hanya makan sedikit dan langsung bergegas jalan menuju ke pos 6. Jalur menuju pos 6 banyak akar pohon, lemab dan cukup basah karena lumut yang sangat tebal kadang membuat langkah kaki kami menjadi lambat dan lelah serta sepatu menjadi basah tenggelam dalam lumut. Kami menghabiskan kurang lebih 1 1/2 jam untuk sampai ke pos 6, namun untuk kemiringan jalurnya masih sama dengan pos 4 ke pos 5. Kondisi pos 6 juga sudah cukup terbuka, sehingga pemandangan kaki gunung sudah bisa dilihat dari sana.
Setelah mengambil beberapa dokumentasi di telaga bidadari, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 8 atau puncak rante mario. Dari Telaga bidadari menuju puncak rante mario cukup landai dan tidak terlalu menanjak dengan waktu tempuh 50 menit. Pemandangan lautan awan sangat indah ketika berjalan menuju ke puncak rante mario, hampir seluruh daratan sulawesi selatan terlihat dari atas ini. Diatas puncak rante mario tidak ada pohon dan angin cukup kencang. Setelah mengambil dokumentasi, kami bergegas untuk turun kembali ke pos 7 karena hari mulai gelap dan dingin datang menghimpit.
Kami hanya beristirahat sebentar di pos 6 setelah menghabiskan beberapa cemilan, kami mulai berjalan menuju ke pos 7 yang menghabiskan kurang lebih 40 menit perjalanan. Tidak terlalu menanjak dan cukup banyak landai dari pos 6 ke pos 7 membuat kami lega karena tenaga yang sudah banyak terkuras oleh lumut. Setelah sampai di pos 7, kami kembali membangun tenda dan mulai bersiap untuk melakukan summit. Area camp di pos 7 tidak terlalu luas dan lebih terbuka tidak ada pohon juga sangatlah dekat dengan sumber air.
Setelah menyiapkan logistik dan peralatan summit, kami mulai berjalan menuju telaga bidadari. Telaga ini juga menjadi persimpangan antara jalur ke kiri menuju Puncak Rante Mario dan Jalur sebelah kanan untuk ke Puncak Nenemori. Jalur dari pos 7 menuju telaga bidadari cukup menanjak dan curam sampai di setengah perjalanan lagi jalurnya landai. Waktu yang dihabiskan dari pos 7 ke telaga ini kurang lebih 20 menit.
Setelah mengambil beberapa dokumentasi di telaga bidadari, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 8 atau puncak rante mario. Dari Telaga bidadari menuju puncak rante mario cukup landai dan tidak terlalu menanjak dengan waktu tempuh 50 menit. Pemandangan lautan awan sangat indah ketika berjalan menuju ke puncak rante mario, hampir seluruh daratan sulawesi selatan terlihat dari atas ini. Diatas puncak rante mario tidak ada pohon dan angin cukup kencang. Setelah mengambil dokumentasi, kami bergegas untuk turun kembali ke pos 7 karena hari mulai gelap dan dingin datang menghimpit.
Setelah kembali tiba di pos 7, kami langsung mengambil persediaan air lalu memasak makanan untuk mengisi kembali energi yang sudah banyak terkuras. Saat makanan siap, kami mulai menghabiskannya lalu duduk sebentar bercerita kemudian tertidur pulas. Pagi pun tiba, kami merapikan kembali barang-barang kedalam carrier lalu berjalan untuk pulang. Jalan turun rasanya cukup membuat kaki kami pegal rasanya, terasa lebih cepat sampai untuk merebahkan badan namun tetap harus berhati-hati. Tiba di basecamp sore hari itu saya seperti keluar dari negeri antah berantah, namun itu pun dibuat luluh saat disambut jingganya langit celebes yang indah dengan hidangan kopi khas dari enrekang. Bang ary bilang kepada kami bahwa "kopi enrekang sangatlah enak, tidak kalah dengan kopi toraja". Para pendaki sebelum melakukan pendakian, biasanya mencoba merasakan gelang yang dianyam langsung dari tangan orang enrekang. Pada ekspedisi ini, saya menyadari bahwa pertarungan ego dan hati sangatlah kuat yang kadang membuat manusia putus asa lalu sirna ditelan peradaban.
Sekian cerita backpacker menggapai atap celebes.
















p
BalasHapuskeren
BalasHapus